Skip to main content

FOCUS (2015) REVIEW : They Losin’ it Focus.


Melakukan pekerjaan penuh trik atau tipuan akan sangat riskan jika trik tersebut sudah basi. Begitu pun di dalam sebuah film, trik atau tipuan akan menjadi sebuah premis yang menyenangkan dengan dukungan packaging yang baik. Glenn Ficarra dan John Requa mencoba menggunakan trik dan tipuan dalam mencuri sebagai dasar cerita di film terbarunya berjudul, Focus. Dengan Will Smith dan Margot Robbie yang digunakan sebagai pelakon utamanya.

Tak seperti judulnya –Focus –film garapan duo sutradara yang menangani Crazy, Stupid, Love dan I Love You Philip Morris ini pun menjadi sebuah ironi. Film terbarunya ini malah kehilangan satu poin yaitu fokus, fokus dalam menangani plot cerita yang digunakan, plot cerita dasar untuk menggerakkan subplot lainnya. Dan pada akhirnya, Focus ini malah terdistraksi oleh subplot-subplot kecil yang terkesan episodik di setiap babak filmnya.  


Toh, plot dari Focus ini sebenarnya menceritakan bagaimana Jess (Margot Robbie), wanita yang ternyata doyan melakukan pekerjaan kriminal yaitu mencuri. Saat di sebuah bar, dia bertemu dengan Nicky (Will Smith) yang ternyata seorang pencuri yang sudah memiliki kredibilitas yang tinggi. Jess yang tergila-gila dengan uang pun mencoba untuk masuk ke dalam dunia milik Nicky yang penuh trik. Jess pun melakukan segala cara untuk lolos tes yang dilakukan oleh Nicky.

Jess pun berhasil masuk ke dalam dunia milik Nicky dan melakukan banyak sekali misi untuk mencuri beberapa barang dari seseorang. Jess pun semakin mahir dan berkembang sangat banyak karena Nicky dan mengajaknya ke sebuah pertandingan American Football terbesar. Di sana lah, Nicky dan Jess melaksanakan misi besar mereka, mencari mangsa-mangsa baru yang lebih besar dan lebih ber-uang di acara ini. 


Ketika big point itu berlangsung cukup menarik di babak awal film ini, lambat laun film ini semakin melemah. Tak menunjukkan premis menariknya lagi untuk menggerakkan subplot-nya, tetapi malah subplot itu yang menggerakkan cerita secara keseluruhan. Maksud untuk menambah intrik cerita, konflik love interest antara Jess dan Nicky pun menjadi satu kelemahan yang tampil sangat menonjol di dalam film ini.

Focus pun akhirnya banting setir menjadi film romance dengan bumbu kriminal, bukan sebaliknya. Karena subplot love interest itu menjadi sangat mendominasi cerita dan tidak mempedulikan premis utama dari film Focus. Boleh lah ada bumbu romance tapi jangan sampai melupakan kulit utama film yang mau ditampilkan. Film pun terasa terbabak dengan subplot yang berbeda di setiap babaknya. Dan akhirnya semakin menuju akhir, Focus menampilkan performa yang sangat lemah dan berantakan.

Subplot love interest yang masih menjadi borok utama film ini dan tak coba untuk ditutupi, ternyata diperbesar lewat subplot masa lalu Nicky yang bermaksud menambah twist and turn untuk mewakili premis utama yaitu trik atau tipuannya, tetapi malah semuanya terjadi sangat tiba-tiba dan sangat berantakan. Focus benar-benar kehilangan kefokusannya, Glenn Ficarra dan John Requa benar-benar lepas kendali dalam mengolah Focus menjadi sajian yang rumit tapi menyenangkan. 


Beruntunglah, penampilan manis dan menggoda dari Margot Robbie masih bisa membuat penontonnya (khususnya penonton lelaki) senang menonton film ini. Will Smith masih tampil dengan porsinya yang pas, masih memberikan chemistry yang apik dengan lawan mainnya. Meskipun, Will Smith masih kalah scene-stealer dari Adrian Martinez yang berhasil membuat film ini masih memiliki unsur komedi yang bisa dinikmati. 

Maka, Focus adalah sebuah ironi yang tragis dari judul dan tagline filmnya. Film arahan Glenn Ficarra dan John Requa ini malah kehilangan satu poin yaitu fokus dalam menjalankan ceritanya. Subplot-subplot kecil yang mendominasi dan melupakan satu premis utama film ini menjadikan Focus semakin melemah di setiap menitnya. Juga, Focus akan terasa  sangat episodik di setiap babak dengan subplot yang berbeda. But, it has Margot Robbie and Adrian Martinez as a weapon.
 

Comments

Popular posts from this blog

The Glass Castle

Destin Cretton is anything but a household name. Yet, the gifted filmmaker turned heads with his massively overlooked 2013 drama, Short Term 12 . The effort bridged together Cretton's singular story and vision with the remarkable acting talents of Brie Larson. Since then Larson has gone on to win an Academy Award ( Room ), but her career comes full circle in her latest collaboration with Destin Cretton in the adapted film The Glass Castle . Told non-chronologically through various flashbacks, The Glass Castle follows the unconventional childhood of gossip columnist and eventual Best-Selling author Jeannette Walls (Larson). Prior to her career as a writer, Walls grows up under the dysfunctional supervision of her alcoholic father (Woody Harrelson) and her amateur artist mother (Naomi Watts). But as Jeannette and her siblings begin to mature and fully comprehend their squatter-lifestyle and impoverished upbringing, they must work together to escape the clutches of their deadbeat par

FILOSOFI KOPI 2 : BEN & JODY (2017) REVIEW : Revisi Nilai Hidup Untuk Sebuah Kedai Kopi

  Kisah pendek yang diambil dari Dewi Lestari ini telah dibudidayakan menjadi sebuah produk yang namanya sudah mahsyur. Selain film, produk dari Filosofi Kopi ini diabadikan menjadi sebuah kedai kopi yang nyata. Dengan adanya konsistensi itu, tak akan kaget apabila film yang diarahkan oleh Angga Dwimas Sasongko ini akan mendapatkan sekuel sebagai perlakuan selanjutnya. Tentu, kekhawatiran akan muncul karena cerita pendek dari Filosofi Kopi pun hanya berhenti di satu sub bab yang telah dibahas di film pertamanya. Sayembara muncul ditujukan kepada semua orang untuk membuat kisah lanjutan dari Ben dan Jody ini. Sayembara ini sekaligus memberikan bukti kepada semua orang bahwa Filosofi Kopi tetap menjadi film yang terkonsentrasi dari penonton seperti film pertamanya. Yang jelas, Angga Dwimas Sasongko tetap mengarahkan Chicco Jericho dan juga Rio Dewanto sebagai Ben dan Jody. Angga Dwimas Sasongko pun berkontribusi dalam pembuatan naskah dari cerita terpilih yang ditulis oleh Jenny Jusuf s

DVD Outlook: August 2017

It appears August is rather barren with new DVD and streaming options ( July's suggestions ). Thankfully, a hot slate of diverse theatrical offerings such as The Big Sick , Dunkirk , War for the Planet of the Apes , Spider-Man: Homecoming and so much more, you can find a worthwhile movie to enjoy no matter what your personal preference may be. Either way, here's a look at what's available on DVD and streaming services this month. Alien: Covenant - 3 stars out of 4 - ( Read my full review here ) Earlier this year Ridley Scott returned to his storied  Alien universe once again with the follow-up to 2012's Prometheus . In the latest installment, Scott and company shift their efforts from cryptic to visceral and disturbing with a bloody and twisted affair that feels immensely more horror-based than its predecessor. While on a colonizing mission to jump-start the humanity on a distant planet, crew members of the Covenant are awoken from their hibernation state following