Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2014

MERRY RIANA : MIMPI SEJUTA DOLAR (2014) REVIEW : Inaccuracy in Inspirational Story

Mengangkat kisah inspiratif seorang tokoh bisa menjadi ke dalam sebuah film layar lebar menjadi tren di kalangan industri perfilman Indonesia. Sebuah biopik dari berbagai kalangan mulai dari seorang yang terpandang dan penting bagi negara hingga seorang yang sukses dalam karirnya mulai dari nol. Kisah inspiratif itu pun selalu dengan mudah menarik minat penontonnya untuk berbondong-bondong pergi ke bioskop untuk menontonnya.
MD Pictures kembali hadir mewarnai genre ini dengan biopik baru dari sosok terkenal, Merry Riana. Nama ini akan orang-orang jumpai lewat bukunya berjudul Manusia Sejuta Dolar di toko buku terdekat. Ya, sosok ini sudah terkenal lewat buku-buku motivasinya yang ditulis oleh Alberthiene Endah yang berdasarkan dari kisah nyata dari Merry Riana. Digawangi oleh Hestu Saputra, Merry Riana pun diangkat menjadi sebuah cerita gambar bergerak untuk menginspirasi penontonnya. 

Dikarenakan sebuah kerusuhan yang terjadi saat reformasi, Merry Riana (Chelsea Islan) dan keluarganya…

THE HOBBIT : THE BATTLE OF FIVE ARMIES (2014) REVIEW : Last Chapter of Bilbo’s Journey [With HFR 3D Review]

The Hobbit sama-sama diangkat dari novel milik J.R.R Tolkien. Bedanya, The Hobbit hanya memiliki satu buku yang dibagi menjadi tiga bagian, tak seperti Trilogi The Lord of The Ringsyang memiliki seri yang berbeda-beda. Tentu, bukan keputusan yang bijak dari Peter Jackson untuk membagi satu buku menjadi 3 bagian yang masing-masing memiliki durasi sektar 150 sampai 165 menit. Hanya dengan satu buku, The Hobbit akan terkesan minim sekali konflik.
Tiga tahun adalah waktu yang dibutuhkan oleh Peter Jackson untuk menjalankan cerita yang minimalis dari Bilbo Baggins. Perlu satu tahun untuk menunggu episode terakhir dari perjalanan Bilbo Baggins dan para dwarfs untuk menyelesaikan misinya. Trilogi The Hobbit menjadi cerita prekuel dari trilogi The Lord of The Rings yang juga diarahkan oleh Peter Jackson. Tetapi, sambutan positif tak lantas mengiringi setiap seri dari The Hobbit sendiri. 

Dua tahun lalu, An Unexpected Journey diedarkan dengan cliffhanger ending yang cukup smooth. Bilbo Baggins …

PENDEKAR TONGKAT EMAS (2014) REVIEW : Misi Menghidupkan Kembali Seni Bela Diri

Martial Arts kembali dikenalkan kepada penonton lewat beberapa film yang menonjolkan gerakan laga menarik. Perpaduan Martial Arts dengan drama mafia pun coba dikembangkan lewat The Raid yang ditangani oleh Gareth Evans, meskipun sutradara film ini bukan asli Indonesia. Maka, penonton perlu diyakinkan bahwa sineas Indonesia mampu menyajikan film-film berkualitas dengan tangannya sendiri. Maka, Miles Films berkolaborasi dengan Ifa Isfansyah mencoba untuk menghidupkan Martial-Arts kolosal lewat film terbarunya.
Pendekar Tongkat Emas, sebuah tribute kepada film-film laga Indonesia lawas yang terlihat digarap serius di tangan-tangan pelaku balik layarnya. Sumba, Nusa Tenggara Timur dijadikan latar tempat cerita dengan kekayaan alamnya yang indah. Dengan para lakon di dalam film yang sudah memiliki nama di industrinya, membangun pondasi yang bagus bahwa film Pendekar Tongkat Emas bukanlah film yang digarap sembarangan. 

Dimulai di sebuah perguruan silat yang dikepalai oleh Cempaka (Christi…

DORAEMON : STAND BY ME (2014) REVIEW : Recall For Our Childhood [With 3D Review]

Fujiko F. Fujio memang sudah wafat beberapa tahun lalu. Tetapi, siapa yang tak kenal Fujiko F. Fujio lewat karyanya, Doraemon, robot kucing asal Jepang yang dikirim dari masa lalu? Sosok itu memang sudah legendaris lewat komik, anime series, dan beberapa film panjang. Di tahun 2014, sosok Doraemon kembali dihidupkan lewat film yang digadang-gadang menjadi babak perpisahan antara Doraemon dan Nobita. Babak terakhir itu berjudul Stand By Me.
Ryuichi Yagi dan Takashi Yamazaki menjadi komandan tertinggi untuk mengarahkan film Doraemon dalam versi 3D-animated CGI ini.Tak salah jika di Indonesia ikut memiliki demand yang besar saat menyambut film panjang robot kucing satu ini. Karena salah satu stasiun televisi lokal di Indonesia sampai sekarang masih memutarkan seri dari Doraemon dan nobita ini. Stand By Me memiliki pasar yang sangat besar saat perilisan perdananya di Indonesia. 

Stand By Me sendiri kembali lagi bercerita tentang bagaimana seorang anak bernama Nobita (Megumi Ohara) bertemu …

SUPERNOVA : KSATRIA, PUTRI, DAN BINTANG JATUH (2014) REVIEW : Rekonstruksi Cinta dengan Teori Ilmiah

Satu persatu novel milik penulis terkenal, Dewi Lestari atau biasa dikenal dengan nama Dee memiliki kesempatan untuk diadaptasi ke sebuah film layar lebar. Perahu Kertas, Rectoverso, Madre, Filosofi Kopi yang sedang dalam proses syuting, dan Supernova yang berada di bawah naungan rumah produksi Soraya Films. Supernova sendiri memiliki 5 buku yang sudah dirilis dan Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh adalah seri yang mengawali seri Supernova.
Rizal Mantovani kembali mengarahkan sebuah film atas komando dari Sunil Soraya. Setelah 5 Cm, Supernova : Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh menjadi tanggung jawab dari sutradara satu ini. Bukan sebuah tanggung jawab yang mudah karena seri Supernova memiliki jutaan penggemar di Indonesia. Banyak orang yang merasa Supernova adalah sebuah maha karya dari penulis Dewi Lestari dan sangat susah untuk diadaptasi menjadi sebuah film. 
Supernova adalah sebuah seri yang sangat rumit dan butuh penanganan khusus agar bisa menjadi satu sajian film yang bagus. K…

7 HARI/24 JAM (2014) REVIEW : Problematika Pernikahan dalam Tawa

Siapa yang tak kenal dengan Dian Sastrowardoyo? Paras cantiknya sudah terkenal lewat perannya sebagai Cinta lewat film arahan Rudi Soedjarwo, Ada Apa Dengan Cinta? Setelah lama vakum setelah film terakhirnya, 3 Doa 3 Cinta, kali ini Dian Sastrowardoyo kembali hadir lewat film dengan genre komedi romantis bersama Lukman Sardi. Mereka berdua beradu akting lewat film terbarunya berjudul 7 Hari/24 Jam. Sinar Dian Sastrowardoyo tak pernah redup. Keputusannya kembali ke layar lebar pun disambut hangat oleh para penikmat film. Banyak yang menantikan kembalinya wanita yang sudah memiliki 2 anak ini di dalam sebuah film. Fajar Nugros kembali menyapa penontonnya dengan arahannya di film ini. Sutradara komersil, Fajar Nugros, tahun ini telah menelurkan banyak karyanya. 7 Hari/24 Jam adalah karya sekian darinya yang dirilis tahun ini. 

5 tahun menjalin komitmen dalam sebuah pernikahan tidak membuat Tania (Dian Sastrowardoyo) dan Tyo (Lukman Sardi) saling mengenal satu sama lain. Mereka adalah oran…